Senin, 01 September 2014

Browse » home» » » » » Benteng Van Der Wijck

Benteng Van Der Wijck



Benteng Van Der Wijck dibangun pada awal abad 19 atau tepatnya pada tahun 1818, bersamaan dengan meluasnya pemberontakan Diponegoro. Ternyata pemberontakan ini sangat merepotkan pemerintah kolonial Belanda karena pada saat itu Pangeran Diponegoro didukung oleh beberapa tokoh elit di Jawa bagian Selatan. Oleh karena itu, pemerintah kolonial Belanda menerapkan taktik Benteng Stelsel dengan membangun benteng-benteng di daerah yang dikuasainya. Tokoh yang memprakarsai pendirian benteng ini adalah Gubernur Jenderal Van den Bosch dengan tujuan sebagai tempat pertahanan sekaligus tempat penyerangan.


Benteng Van Der Wijck terletak di Gombong, Jawa Tengah. Luas benteng ini sekitar 3.606 m2 dengan tinggi 9,67 m. Dilihat dari bentuk bangunannya, pembangunan benteng ini sezaman dengan Benteng Willem di Ambarawa dan Prins Oranje di Semarang yang kini sudah hancur. Pada awal didirikan, benteng ini diberi nama Fort Cochius atau Benteng Cochius yang diambil dari nama salah seorang perwira militer Belanda yaitu Frans David Cochius. Nama Van Der Wijck sendiri merupakan nama salah seorang perwira militer Belanda yang pernah menjadi komandan di benteng tersebut.

Di dalam Benteng Van Der Wijck terdapat 16 barak dengan ukuran masing-masing sekitar 7,5 x 11,32 m yang dulunya digunakan sebagai asrama tentara Belanda dan sebagai tempat pelatihan prajurit PETA (Pembela Tanah Air) pada zaman pendudukan Jepang. Sedangkan bagian utama benteng digunakan sebagai gudang penyimpanan bahan makanan, senjata, dan amunisi. Benteng ini berbentuk segi delapan dan memiliki dua lantai. Bagian atap benteng terdapat bangunan yang berfungsi sebagai tempat pengintaian.


Benteng Van Der Wijck dengan dominasi warna merah ini cukup mencolok diantara bangunan lain, namun tersamar dari jalan utama karena gerbang masuk lokasi wisata ini cukup jauh dari pintu gerbang benteng. Oleh karena itu, pihak pengelola benteng ini menyediakan kereta api mini yang akan mengantarkan pengunjung dari gerbang utama mengelilingi objek wisata bersejarah ini. Di dalam benteng tersebut pungunjung bisa melihat beberapa foto dokumentasi seputar bentuk asli bangunan benteng saat ditemukan dan tahap-tahap pemugaran yang telah dilakukan terhadap benteng tersebut. Ruangan-ruangan bekas barak militer, asrama, pos jaga juga bisa dilihat didalam benteng dan semuanya dalam keadaan rapi dan bersih. Di bagian luar benteng juga ditempeli “Sebelum masuk benteng sebaiknya anda berdoa sejenak menurut kepercayaan masing-masing.”


Awalnya Benteng Van Der Wijck adalah milik TNI, tetapi pada tahun 1998 benteng ini diserahkan untuk dikelola oleh pihak swasta. Pada tahun 2000, benteng ini direnovasi dan dibangun sarana permainan anak-anak, gedung pertemuan, dan hotel. Barak-barak tentara dibangun menjadi hotel-hotel tanpa mengubah bentuk aslinya karena pihak TNI tidak memperbolehkan untuk mengubah bentuk asli dari benteng tersebut. Namun, hotel yang terdapat didalam benteng ini tidak dibuka untuk umum, kecuali pada Tahun Baru atau Lebaran. Benteng ini sering digunakan untuk seminar, diklat, acara wedding juga bisa dilakukan di gedung pertemuan. 

Untuk menikmati catatan perjalanan sejarah di Benteng Van Der Wijck, Anda cukup membayar Rp 4000 pada weekday dan Rp 5000 di hari libur.


www.gunadarma.ac.id


Tidak ada komentar:

Posting Komentar